Quiz Summary
0 of 30 Questions completed
Questions:
Information
You have already completed the quiz before. Hence you can not start it again.
Quiz is loading…
You must sign in or sign up to start the quiz.
You must first complete the following:
Results
Results
0 of 30 Questions answered correctly
Your time:
Time has elapsed
You have reached 0 of 0 point(s), (0)
Earned Point(s): 0 of 0, (0)
0 Essay(s) Pending (Possible Point(s): 0)
Categories
- Not categorized 0%
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- Current
- Review
- Answered
- Correct
- Incorrect
-
Question 1 of 30
1. Question
Di Balik Tawa
Adegan 1: “Ejekan di Kelas”
(Di dalam kelas, Lina duduk bersama teman-temannya, sementara Rani duduk di bangku belakang. Dina duduk di depan, terlihat cemas. Lina memulai perbincangan dengan teman-temannya.)
Lina:
(berbisik keras kepada teman-temannya, mengarah ke Rani)
Lihat deh si Rani, kayak alien ya? Selalu duduk sendiri, nggak ada yang mau temenan sama dia. Gimana bisa sih dia nggak malu?Teman Lina:
(tertawa terbahak-bahak)
Iya, Lina. Pasti dia nggak ngerti gaya kita, makanya dia selalu sendirian. Pasti nggak paham mode zaman sekarang.(Rani menunduk, mencoba menghindari percakapan mereka, namun jelas terlihat raut wajahnya yang sedih.)
Dina:
(dengan suara pelan, menoleh ke Lina)
Lina, itu nggak baik, loh. Kamu harusnya nggak usah ngomong gitu. Dia bisa sakit hati, lho.Lina:
(tersenyum mengejek, dengan nada tidak peduli)
Ah, nggak masalah, Dina. Dia nggak akan peduli. Itu kan cuma bercandaan.
Adegan 2: “Perundungan di Kelas”
(Di luar kelas, saat jam istirahat, Lina dan teman-temannya menghadang Rani yang sedang berjalan menuju kantin.)
Lina:
(menghalangi jalan Rani dengan senyum mengejek)
Mau ke mana, sih? Lagi-lagi sendirian? Jangan-jangan makan juga sendiri, ya?Rani:
(dengan suara lemah, berusaha menghindar)
Saya nggak mau masalah, Lina. Tolong, jangan ganggu saya.Lina:
(tertawa dengan keras)
Apa? Kamu takut sama aku? Ayo, ngomong! Kamu nggak punya temen, kan? Semua orang cuma kasihan sama kamu.(Rani menunduk, menahan air mata. Dina, yang melihat dari kejauhan, merasa sangat cemas tetapi tetap diam.)
Adegan 3: “Tindak Lanjut dari Guru”
(Di ruang guru, Pak Andi berbicara dengan Dina setelah pelajaran selesai.)
Pak Andi:
(dengan nada serius)
Dina, aku dengar ada yang nggak beres di kelas. Ada masalah apa?Dina:
(dengan wajah khawatir, menunduk)
Pak, saya melihat Lina dan teman-temannya sering banget ngejek Rani. Saya nggak tahu harus bagaimana. Saya nggak berani ngomong.Pak Andi:
(menghela napas, mencoba memberi penjelasan)
Dina, kita nggak bisa diam aja kalau ada yang salah. Kalau kita nggak berani berbicara, itu juga jadi masalah. Kita harus mulai peduli, bukan hanya menonton.Dina:
(terlihat bingung, namun mulai mengerti)
Tapi Pak, saya takut kalau saya ikut campur, malah jadi masalah buat saya.Pak Andi:
(dengan senyuman bijaksana)
Terkadang, kita harus berani untuk melakukan yang benar meskipun itu sulit. Yang penting, kita tidak membiarkan hal buruk terus berlangsung tanpa ada tindakan.
Adegan 4: “Permintaan Maaf dan Perubahan”
(Beberapa hari setelah Pak Andi memberikan penjelasan, Lina akhirnya meminta maaf kepada Rani di depan kelas setelah disarankan oleh Pak Andi.)
Lina:
(dengan suara pelan, menunduk sedikit)
Rani, aku mau minta maaf. Aku sadar kalau aku udah salah. Aku nggak seharusnya ngebuli kamu kayak gitu. Maaf ya.Rani:
(terkejut, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Lina. Aku nggak nyangka kamu akan minta maaf. Aku harap kita bisa lebih baik ke depan.(Seluruh kelas terdiam, melihat perubahan yang terjadi di antara mereka. Pak Andi mengangguk, merasa puas melihat perubahan yang mulai terjadi.)
Tamat
Latar tempat pada teks drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 2 of 30
2. Question
Di Balik Tawa
Adegan 1: “Ejekan di Kelas”
(Di dalam kelas, Lina duduk bersama teman-temannya, sementara Rani duduk di bangku belakang. Dina duduk di depan, terlihat cemas. Lina memulai perbincangan dengan teman-temannya.)
Lina:
(berbisik keras kepada teman-temannya, mengarah ke Rani)
Lihat deh si Rani, kayak alien ya? Selalu duduk sendiri, nggak ada yang mau temenan sama dia. Gimana bisa sih dia nggak malu?Teman Lina:
(tertawa terbahak-bahak)
Iya, Lina. Pasti dia nggak ngerti gaya kita, makanya dia selalu sendirian. Pasti nggak paham mode zaman sekarang.(Rani menunduk, mencoba menghindari percakapan mereka, namun jelas terlihat raut wajahnya yang sedih.)
Dina:
(dengan suara pelan, menoleh ke Lina)
Lina, itu nggak baik, loh. Kamu harusnya nggak usah ngomong gitu. Dia bisa sakit hati, lho.Lina:
(tersenyum mengejek, dengan nada tidak peduli)
Ah, nggak masalah, Dina. Dia nggak akan peduli. Itu kan cuma bercandaan.
Adegan 2: “Perundungan di Kelas”
(Di luar kelas, saat jam istirahat, Lina dan teman-temannya menghadang Rani yang sedang berjalan menuju kantin.)
Lina:
(menghalangi jalan Rani dengan senyum mengejek)
Mau ke mana, sih? Lagi-lagi sendirian? Jangan-jangan makan juga sendiri, ya?Rani:
(dengan suara lemah, berusaha menghindar)
Saya nggak mau masalah, Lina. Tolong, jangan ganggu saya.Lina:
(tertawa dengan keras)
Apa? Kamu takut sama aku? Ayo, ngomong! Kamu nggak punya temen, kan? Semua orang cuma kasihan sama kamu.(Rani menunduk, menahan air mata. Dina, yang melihat dari kejauhan, merasa sangat cemas tetapi tetap diam.)
Adegan 3: “Tindak Lanjut dari Guru”
(Di ruang guru, Pak Andi berbicara dengan Dina setelah pelajaran selesai.)
Pak Andi:
(dengan nada serius)
Dina, aku dengar ada yang nggak beres di kelas. Ada masalah apa?Dina:
(dengan wajah khawatir, menunduk)
Pak, saya melihat Lina dan teman-temannya sering banget ngejek Rani. Saya nggak tahu harus bagaimana. Saya nggak berani ngomong.Pak Andi:
(menghela napas, mencoba memberi penjelasan)
Dina, kita nggak bisa diam aja kalau ada yang salah. Kalau kita nggak berani berbicara, itu juga jadi masalah. Kita harus mulai peduli, bukan hanya menonton.Dina:
(terlihat bingung, namun mulai mengerti)
Tapi Pak, saya takut kalau saya ikut campur, malah jadi masalah buat saya.Pak Andi:
(dengan senyuman bijaksana)
Terkadang, kita harus berani untuk melakukan yang benar meskipun itu sulit. Yang penting, kita tidak membiarkan hal buruk terus berlangsung tanpa ada tindakan.
Adegan 4: “Permintaan Maaf dan Perubahan”
(Beberapa hari setelah Pak Andi memberikan penjelasan, Lina akhirnya meminta maaf kepada Rani di depan kelas setelah disarankan oleh Pak Andi.)
Lina:
(dengan suara pelan, menunduk sedikit)
Rani, aku mau minta maaf. Aku sadar kalau aku udah salah. Aku nggak seharusnya ngebuli kamu kayak gitu. Maaf ya.Rani:
(terkejut, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Lina. Aku nggak nyangka kamu akan minta maaf. Aku harap kita bisa lebih baik ke depan.(Seluruh kelas terdiam, melihat perubahan yang terjadi di antara mereka. Pak Andi mengangguk, merasa puas melihat perubahan yang mulai terjadi.)
Tamat
Karakter yang sering melakukan perundungan di kelas adalah…
CorrectIncorrect -
Question 3 of 30
3. Question
Di Balik Tawa
Adegan 1: “Ejekan di Kelas”
(Di dalam kelas, Lina duduk bersama teman-temannya, sementara Rani duduk di bangku belakang. Dina duduk di depan, terlihat cemas. Lina memulai perbincangan dengan teman-temannya.)
Lina:
(berbisik keras kepada teman-temannya, mengarah ke Rani)
Lihat deh si Rani, kayak alien ya? Selalu duduk sendiri, nggak ada yang mau temenan sama dia. Gimana bisa sih dia nggak malu?Teman Lina:
(tertawa terbahak-bahak)
Iya, Lina. Pasti dia nggak ngerti gaya kita, makanya dia selalu sendirian. Pasti nggak paham mode zaman sekarang.(Rani menunduk, mencoba menghindari percakapan mereka, namun jelas terlihat raut wajahnya yang sedih.)
Dina:
(dengan suara pelan, menoleh ke Lina)
Lina, itu nggak baik, loh. Kamu harusnya nggak usah ngomong gitu. Dia bisa sakit hati, lho.Lina:
(tersenyum mengejek, dengan nada tidak peduli)
Ah, nggak masalah, Dina. Dia nggak akan peduli. Itu kan cuma bercandaan.
Adegan 2: “Perundungan di Kelas”
(Di luar kelas, saat jam istirahat, Lina dan teman-temannya menghadang Rani yang sedang berjalan menuju kantin.)
Lina:
(menghalangi jalan Rani dengan senyum mengejek)
Mau ke mana, sih? Lagi-lagi sendirian? Jangan-jangan makan juga sendiri, ya?Rani:
(dengan suara lemah, berusaha menghindar)
Saya nggak mau masalah, Lina. Tolong, jangan ganggu saya.Lina:
(tertawa dengan keras)
Apa? Kamu takut sama aku? Ayo, ngomong! Kamu nggak punya temen, kan? Semua orang cuma kasihan sama kamu.(Rani menunduk, menahan air mata. Dina, yang melihat dari kejauhan, merasa sangat cemas tetapi tetap diam.)
Adegan 3: “Tindak Lanjut dari Guru”
(Di ruang guru, Pak Andi berbicara dengan Dina setelah pelajaran selesai.)
Pak Andi:
(dengan nada serius)
Dina, aku dengar ada yang nggak beres di kelas. Ada masalah apa?Dina:
(dengan wajah khawatir, menunduk)
Pak, saya melihat Lina dan teman-temannya sering banget ngejek Rani. Saya nggak tahu harus bagaimana. Saya nggak berani ngomong.Pak Andi:
(menghela napas, mencoba memberi penjelasan)
Dina, kita nggak bisa diam aja kalau ada yang salah. Kalau kita nggak berani berbicara, itu juga jadi masalah. Kita harus mulai peduli, bukan hanya menonton.Dina:
(terlihat bingung, namun mulai mengerti)
Tapi Pak, saya takut kalau saya ikut campur, malah jadi masalah buat saya.Pak Andi:
(dengan senyuman bijaksana)
Terkadang, kita harus berani untuk melakukan yang benar meskipun itu sulit. Yang penting, kita tidak membiarkan hal buruk terus berlangsung tanpa ada tindakan.
Adegan 4: “Permintaan Maaf dan Perubahan”
(Beberapa hari setelah Pak Andi memberikan penjelasan, Lina akhirnya meminta maaf kepada Rani di depan kelas setelah disarankan oleh Pak Andi.)
Lina:
(dengan suara pelan, menunduk sedikit)
Rani, aku mau minta maaf. Aku sadar kalau aku udah salah. Aku nggak seharusnya ngebuli kamu kayak gitu. Maaf ya.Rani:
(terkejut, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Lina. Aku nggak nyangka kamu akan minta maaf. Aku harap kita bisa lebih baik ke depan.(Seluruh kelas terdiam, melihat perubahan yang terjadi di antara mereka. Pak Andi mengangguk, merasa puas melihat perubahan yang mulai terjadi.)
Tamat
Karakter yang sering menjadi sasaran bullying dalam cerita ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 4 of 30
4. Question
Di Balik Tawa
Adegan 1: “Ejekan di Kelas”
(Di dalam kelas, Lina duduk bersama teman-temannya, sementara Rani duduk di bangku belakang. Dina duduk di depan, terlihat cemas. Lina memulai perbincangan dengan teman-temannya.)
Lina:
(berbisik keras kepada teman-temannya, mengarah ke Rani)
Lihat deh si Rani, kayak alien ya? Selalu duduk sendiri, nggak ada yang mau temenan sama dia. Gimana bisa sih dia nggak malu?Teman Lina:
(tertawa terbahak-bahak)
Iya, Lina. Pasti dia nggak ngerti gaya kita, makanya dia selalu sendirian. Pasti nggak paham mode zaman sekarang.(Rani menunduk, mencoba menghindari percakapan mereka, namun jelas terlihat raut wajahnya yang sedih.)
Dina:
(dengan suara pelan, menoleh ke Lina)
Lina, itu nggak baik, loh. Kamu harusnya nggak usah ngomong gitu. Dia bisa sakit hati, lho.Lina:
(tersenyum mengejek, dengan nada tidak peduli)
Ah, nggak masalah, Dina. Dia nggak akan peduli. Itu kan cuma bercandaan.
Adegan 2: “Perundungan di Kelas”
(Di luar kelas, saat jam istirahat, Lina dan teman-temannya menghadang Rani yang sedang berjalan menuju kantin.)
Lina:
(menghalangi jalan Rani dengan senyum mengejek)
Mau ke mana, sih? Lagi-lagi sendirian? Jangan-jangan makan juga sendiri, ya?Rani:
(dengan suara lemah, berusaha menghindar)
Saya nggak mau masalah, Lina. Tolong, jangan ganggu saya.Lina:
(tertawa dengan keras)
Apa? Kamu takut sama aku? Ayo, ngomong! Kamu nggak punya temen, kan? Semua orang cuma kasihan sama kamu.(Rani menunduk, menahan air mata. Dina, yang melihat dari kejauhan, merasa sangat cemas tetapi tetap diam.)
Adegan 3: “Tindak Lanjut dari Guru”
(Di ruang guru, Pak Andi berbicara dengan Dina setelah pelajaran selesai.)
Pak Andi:
(dengan nada serius)
Dina, aku dengar ada yang nggak beres di kelas. Ada masalah apa?Dina:
(dengan wajah khawatir, menunduk)
Pak, saya melihat Lina dan teman-temannya sering banget ngejek Rani. Saya nggak tahu harus bagaimana. Saya nggak berani ngomong.Pak Andi:
(menghela napas, mencoba memberi penjelasan)
Dina, kita nggak bisa diam aja kalau ada yang salah. Kalau kita nggak berani berbicara, itu juga jadi masalah. Kita harus mulai peduli, bukan hanya menonton.Dina:
(terlihat bingung, namun mulai mengerti)
Tapi Pak, saya takut kalau saya ikut campur, malah jadi masalah buat saya.Pak Andi:
(dengan senyuman bijaksana)
Terkadang, kita harus berani untuk melakukan yang benar meskipun itu sulit. Yang penting, kita tidak membiarkan hal buruk terus berlangsung tanpa ada tindakan.
Adegan 4: “Permintaan Maaf dan Perubahan”
(Beberapa hari setelah Pak Andi memberikan penjelasan, Lina akhirnya meminta maaf kepada Rani di depan kelas setelah disarankan oleh Pak Andi.)
Lina:
(dengan suara pelan, menunduk sedikit)
Rani, aku mau minta maaf. Aku sadar kalau aku udah salah. Aku nggak seharusnya ngebuli kamu kayak gitu. Maaf ya.Rani:
(terkejut, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Lina. Aku nggak nyangka kamu akan minta maaf. Aku harap kita bisa lebih baik ke depan.(Seluruh kelas terdiam, melihat perubahan yang terjadi di antara mereka. Pak Andi mengangguk, merasa puas melihat perubahan yang mulai terjadi.)
Tamat
Konflik utama yang terjadi dalam drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 5 of 30
5. Question
Di Balik Tawa
Adegan 1: “Ejekan di Kelas”
(Di dalam kelas, Lina duduk bersama teman-temannya, sementara Rani duduk di bangku belakang. Dina duduk di depan, terlihat cemas. Lina memulai perbincangan dengan teman-temannya.)
Lina:
(berbisik keras kepada teman-temannya, mengarah ke Rani)
Lihat deh si Rani, kayak alien ya? Selalu duduk sendiri, nggak ada yang mau temenan sama dia. Gimana bisa sih dia nggak malu?Teman Lina:
(tertawa terbahak-bahak)
Iya, Lina. Pasti dia nggak ngerti gaya kita, makanya dia selalu sendirian. Pasti nggak paham mode zaman sekarang.(Rani menunduk, mencoba menghindari percakapan mereka, namun jelas terlihat raut wajahnya yang sedih.)
Dina:
(dengan suara pelan, menoleh ke Lina)
Lina, itu nggak baik, loh. Kamu harusnya nggak usah ngomong gitu. Dia bisa sakit hati, lho.Lina:
(tersenyum mengejek, dengan nada tidak peduli)
Ah, nggak masalah, Dina. Dia nggak akan peduli. Itu kan cuma bercandaan.
Adegan 2: “Perundungan di Kelas”
(Di luar kelas, saat jam istirahat, Lina dan teman-temannya menghadang Rani yang sedang berjalan menuju kantin.)
Lina:
(menghalangi jalan Rani dengan senyum mengejek)
Mau ke mana, sih? Lagi-lagi sendirian? Jangan-jangan makan juga sendiri, ya?Rani:
(dengan suara lemah, berusaha menghindar)
Saya nggak mau masalah, Lina. Tolong, jangan ganggu saya.Lina:
(tertawa dengan keras)
Apa? Kamu takut sama aku? Ayo, ngomong! Kamu nggak punya temen, kan? Semua orang cuma kasihan sama kamu.(Rani menunduk, menahan air mata. Dina, yang melihat dari kejauhan, merasa sangat cemas tetapi tetap diam.)
Adegan 3: “Tindak Lanjut dari Guru”
(Di ruang guru, Pak Andi berbicara dengan Dina setelah pelajaran selesai.)
Pak Andi:
(dengan nada serius)
Dina, aku dengar ada yang nggak beres di kelas. Ada masalah apa?Dina:
(dengan wajah khawatir, menunduk)
Pak, saya melihat Lina dan teman-temannya sering banget ngejek Rani. Saya nggak tahu harus bagaimana. Saya nggak berani ngomong.Pak Andi:
(menghela napas, mencoba memberi penjelasan)
Dina, kita nggak bisa diam aja kalau ada yang salah. Kalau kita nggak berani berbicara, itu juga jadi masalah. Kita harus mulai peduli, bukan hanya menonton.Dina:
(terlihat bingung, namun mulai mengerti)
Tapi Pak, saya takut kalau saya ikut campur, malah jadi masalah buat saya.Pak Andi:
(dengan senyuman bijaksana)
Terkadang, kita harus berani untuk melakukan yang benar meskipun itu sulit. Yang penting, kita tidak membiarkan hal buruk terus berlangsung tanpa ada tindakan.
Adegan 4: “Permintaan Maaf dan Perubahan”
(Beberapa hari setelah Pak Andi memberikan penjelasan, Lina akhirnya meminta maaf kepada Rani di depan kelas setelah disarankan oleh Pak Andi.)
Lina:
(dengan suara pelan, menunduk sedikit)
Rani, aku mau minta maaf. Aku sadar kalau aku udah salah. Aku nggak seharusnya ngebuli kamu kayak gitu. Maaf ya.Rani:
(terkejut, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Lina. Aku nggak nyangka kamu akan minta maaf. Aku harap kita bisa lebih baik ke depan.(Seluruh kelas terdiam, melihat perubahan yang terjadi di antara mereka. Pak Andi mengangguk, merasa puas melihat perubahan yang mulai terjadi.)
Tamat
Latar suasana dalam drama ini lebih sering menggambarkan suasana…
CorrectIncorrect -
Question 6 of 30
6. Question
Membantu Teman Belajar
Adegan 1: “Kesulitan dalam Pelajaran Matematika”
(Di kelas, saat jam pelajaran matematika sedang berlangsung, Dina terlihat kebingungan saat Pak Agus menjelaskan soal-soal di papan tulis. Riko yang duduk di sebelah Dina melihat ekspresinya.)
Pak Agus:
(menulis di papan tulis)
Jadi, kita akan bahas soal aljabar hari ini. Perhatikan baik-baik langkah-langkah penyelesaiannya.Dina:
(dengan cemas, berbicara pelan pada dirinya sendiri)
Ah, kenapa aku nggak paham-paham ya? Ini kok terasa sulit banget.Riko:
(dengan suara pelan, berbicara kepada Dina)
Dina, kamu nggak paham soal ini ya?Dina:
(menggeleng, sedikit malu)
Iya, Riko. Aku nggak ngerti bagian ini. Semua rumusnya jadi campur aduk di otakku.
Adegan 2: “Tawaran Membantu”
(Setelah pelajaran selesai, Riko menghampiri Dina yang masih duduk di bangkunya, mencoba memahami catatan yang diberikan oleh Pak Agus.)
Riko:
(dengan suara ramah, tersenyum)
Dina, kamu kelihatan kesulitan tadi. Kalau kamu mau, aku bisa bantu jelaskan. Mungkin bisa lebih mudah kalau belajar bareng.Dina:
(dengan wajah ragu, tapi merasa cemas)
Makasih, Riko, tapi aku nggak mau ganggu kamu. Kamu pasti sibuk. Aku takut malah jadi ngerepotin.Riko:
(menggelengkan kepala, sambil duduk di sebelah Dina)
Nggak apa-apa, kok. Justru aku senang bisa bantu. Kita semua kan teman. Kalau ada yang nggak ngerti, harus saling bantu, kan?Dina:
(tersenyum lega, merasa dihargai)
Terima kasih banyak, Riko. Aku senang kamu mau bantu. Aku bakal coba dengerin baik-baik.
Adegan 3: “Proses Belajar Bersama”
(Riko mulai menjelaskan soal-soal yang belum dipahami Dina. Mereka bekerja bersama-sama di ruang kelas yang sepi setelah pelajaran selesai.)
Riko:
(menunjuk soal di buku Dina)
Oke, pertama kita cari tahu dulu variabel-variabel yang ada di soal ini. Lihat, ini ada x dan y. Kita akan isolasi satu persamaan dulu. Misalnya, kita selesaikan yang ini dulu, ya?Dina:
(mengangguk, mulai paham sedikit demi sedikit)
Oh, jadi kita harus pisahkan satu sisi dulu ya?Riko:
(tersenyum lebar)
Iya, tepat sekali. Setelah itu, tinggal kita substitusi ke persamaan kedua. Kalau kamu ngerti langkah-langkah ini, pasti soal lainnya juga lebih gampang.Dina:
(senang dan mulai percaya diri)
Wah, ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan. Terima kasih banget, Riko!
Tamat
Latar tempat pada teks drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 7 of 30
7. Question
Membantu Teman Belajar
Adegan 1: “Kesulitan dalam Pelajaran Matematika”
(Di kelas, saat jam pelajaran matematika sedang berlangsung, Dina terlihat kebingungan saat Pak Agus menjelaskan soal-soal di papan tulis. Riko yang duduk di sebelah Dina melihat ekspresinya.)
Pak Agus:
(menulis di papan tulis)
Jadi, kita akan bahas soal aljabar hari ini. Perhatikan baik-baik langkah-langkah penyelesaiannya.Dina:
(dengan cemas, berbicara pelan pada dirinya sendiri)
Ah, kenapa aku nggak paham-paham ya? Ini kok terasa sulit banget.Riko:
(dengan suara pelan, berbicara kepada Dina)
Dina, kamu nggak paham soal ini ya?Dina:
(menggeleng, sedikit malu)
Iya, Riko. Aku nggak ngerti bagian ini. Semua rumusnya jadi campur aduk di otakku.
Adegan 2: “Tawaran Membantu”
(Setelah pelajaran selesai, Riko menghampiri Dina yang masih duduk di bangkunya, mencoba memahami catatan yang diberikan oleh Pak Agus.)
Riko:
(dengan suara ramah, tersenyum)
Dina, kamu kelihatan kesulitan tadi. Kalau kamu mau, aku bisa bantu jelaskan. Mungkin bisa lebih mudah kalau belajar bareng.Dina:
(dengan wajah ragu, tapi merasa cemas)
Makasih, Riko, tapi aku nggak mau ganggu kamu. Kamu pasti sibuk. Aku takut malah jadi ngerepotin.Riko:
(menggelengkan kepala, sambil duduk di sebelah Dina)
Nggak apa-apa, kok. Justru aku senang bisa bantu. Kita semua kan teman. Kalau ada yang nggak ngerti, harus saling bantu, kan?Dina:
(tersenyum lega, merasa dihargai)
Terima kasih banyak, Riko. Aku senang kamu mau bantu. Aku bakal coba dengerin baik-baik.
Adegan 3: “Proses Belajar Bersama”
(Riko mulai menjelaskan soal-soal yang belum dipahami Dina. Mereka bekerja bersama-sama di ruang kelas yang sepi setelah pelajaran selesai.)
Riko:
(menunjuk soal di buku Dina)
Oke, pertama kita cari tahu dulu variabel-variabel yang ada di soal ini. Lihat, ini ada x dan y. Kita akan isolasi satu persamaan dulu. Misalnya, kita selesaikan yang ini dulu, ya?Dina:
(mengangguk, mulai paham sedikit demi sedikit)
Oh, jadi kita harus pisahkan satu sisi dulu ya?Riko:
(tersenyum lebar)
Iya, tepat sekali. Setelah itu, tinggal kita substitusi ke persamaan kedua. Kalau kamu ngerti langkah-langkah ini, pasti soal lainnya juga lebih gampang.Dina:
(senang dan mulai percaya diri)
Wah, ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan. Terima kasih banget, Riko!
Tamat
Karakter yang kesulitan memahami materi matematika adalah…
CorrectIncorrect -
Question 8 of 30
8. Question
Membantu Teman Belajar
Adegan 1: “Kesulitan dalam Pelajaran Matematika”
(Di kelas, saat jam pelajaran matematika sedang berlangsung, Dina terlihat kebingungan saat Pak Agus menjelaskan soal-soal di papan tulis. Riko yang duduk di sebelah Dina melihat ekspresinya.)
Pak Agus:
(menulis di papan tulis)
Jadi, kita akan bahas soal aljabar hari ini. Perhatikan baik-baik langkah-langkah penyelesaiannya.Dina:
(dengan cemas, berbicara pelan pada dirinya sendiri)
Ah, kenapa aku nggak paham-paham ya? Ini kok terasa sulit banget.Riko:
(dengan suara pelan, berbicara kepada Dina)
Dina, kamu nggak paham soal ini ya?Dina:
(menggeleng, sedikit malu)
Iya, Riko. Aku nggak ngerti bagian ini. Semua rumusnya jadi campur aduk di otakku.
Adegan 2: “Tawaran Membantu”
(Setelah pelajaran selesai, Riko menghampiri Dina yang masih duduk di bangkunya, mencoba memahami catatan yang diberikan oleh Pak Agus.)
Riko:
(dengan suara ramah, tersenyum)
Dina, kamu kelihatan kesulitan tadi. Kalau kamu mau, aku bisa bantu jelaskan. Mungkin bisa lebih mudah kalau belajar bareng.Dina:
(dengan wajah ragu, tapi merasa cemas)
Makasih, Riko, tapi aku nggak mau ganggu kamu. Kamu pasti sibuk. Aku takut malah jadi ngerepotin.Riko:
(menggelengkan kepala, sambil duduk di sebelah Dina)
Nggak apa-apa, kok. Justru aku senang bisa bantu. Kita semua kan teman. Kalau ada yang nggak ngerti, harus saling bantu, kan?Dina:
(tersenyum lega, merasa dihargai)
Terima kasih banyak, Riko. Aku senang kamu mau bantu. Aku bakal coba dengerin baik-baik.
Adegan 3: “Proses Belajar Bersama”
(Riko mulai menjelaskan soal-soal yang belum dipahami Dina. Mereka bekerja bersama-sama di ruang kelas yang sepi setelah pelajaran selesai.)
Riko:
(menunjuk soal di buku Dina)
Oke, pertama kita cari tahu dulu variabel-variabel yang ada di soal ini. Lihat, ini ada x dan y. Kita akan isolasi satu persamaan dulu. Misalnya, kita selesaikan yang ini dulu, ya?Dina:
(mengangguk, mulai paham sedikit demi sedikit)
Oh, jadi kita harus pisahkan satu sisi dulu ya?Riko:
(tersenyum lebar)
Iya, tepat sekali. Setelah itu, tinggal kita substitusi ke persamaan kedua. Kalau kamu ngerti langkah-langkah ini, pasti soal lainnya juga lebih gampang.Dina:
(senang dan mulai percaya diri)
Wah, ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan. Terima kasih banget, Riko!
Tamat
Karakter yang membantu Dina belajar matematika adalah…
CorrectIncorrect -
Question 9 of 30
9. Question
Membantu Teman Belajar
Adegan 1: “Kesulitan dalam Pelajaran Matematika”
(Di kelas, saat jam pelajaran matematika sedang berlangsung, Dina terlihat kebingungan saat Pak Agus menjelaskan soal-soal di papan tulis. Riko yang duduk di sebelah Dina melihat ekspresinya.)
Pak Agus:
(menulis di papan tulis)
Jadi, kita akan bahas soal aljabar hari ini. Perhatikan baik-baik langkah-langkah penyelesaiannya.Dina:
(dengan cemas, berbicara pelan pada dirinya sendiri)
Ah, kenapa aku nggak paham-paham ya? Ini kok terasa sulit banget.Riko:
(dengan suara pelan, berbicara kepada Dina)
Dina, kamu nggak paham soal ini ya?Dina:
(menggeleng, sedikit malu)
Iya, Riko. Aku nggak ngerti bagian ini. Semua rumusnya jadi campur aduk di otakku.
Adegan 2: “Tawaran Membantu”
(Setelah pelajaran selesai, Riko menghampiri Dina yang masih duduk di bangkunya, mencoba memahami catatan yang diberikan oleh Pak Agus.)
Riko:
(dengan suara ramah, tersenyum)
Dina, kamu kelihatan kesulitan tadi. Kalau kamu mau, aku bisa bantu jelaskan. Mungkin bisa lebih mudah kalau belajar bareng.Dina:
(dengan wajah ragu, tapi merasa cemas)
Makasih, Riko, tapi aku nggak mau ganggu kamu. Kamu pasti sibuk. Aku takut malah jadi ngerepotin.Riko:
(menggelengkan kepala, sambil duduk di sebelah Dina)
Nggak apa-apa, kok. Justru aku senang bisa bantu. Kita semua kan teman. Kalau ada yang nggak ngerti, harus saling bantu, kan?Dina:
(tersenyum lega, merasa dihargai)
Terima kasih banyak, Riko. Aku senang kamu mau bantu. Aku bakal coba dengerin baik-baik.
Adegan 3: “Proses Belajar Bersama”
(Riko mulai menjelaskan soal-soal yang belum dipahami Dina. Mereka bekerja bersama-sama di ruang kelas yang sepi setelah pelajaran selesai.)
Riko:
(menunjuk soal di buku Dina)
Oke, pertama kita cari tahu dulu variabel-variabel yang ada di soal ini. Lihat, ini ada x dan y. Kita akan isolasi satu persamaan dulu. Misalnya, kita selesaikan yang ini dulu, ya?Dina:
(mengangguk, mulai paham sedikit demi sedikit)
Oh, jadi kita harus pisahkan satu sisi dulu ya?Riko:
(tersenyum lebar)
Iya, tepat sekali. Setelah itu, tinggal kita substitusi ke persamaan kedua. Kalau kamu ngerti langkah-langkah ini, pasti soal lainnya juga lebih gampang.Dina:
(senang dan mulai percaya diri)
Wah, ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan. Terima kasih banget, Riko!
Tamat
Konflik utama dalam drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 10 of 30
10. Question
Membantu Teman Belajar
Adegan 1: “Kesulitan dalam Pelajaran Matematika”
(Di kelas, saat jam pelajaran matematika sedang berlangsung, Dina terlihat kebingungan saat Pak Agus menjelaskan soal-soal di papan tulis. Riko yang duduk di sebelah Dina melihat ekspresinya.)
Pak Agus:
(menulis di papan tulis)
Jadi, kita akan bahas soal aljabar hari ini. Perhatikan baik-baik langkah-langkah penyelesaiannya.Dina:
(dengan cemas, berbicara pelan pada dirinya sendiri)
Ah, kenapa aku nggak paham-paham ya? Ini kok terasa sulit banget.Riko:
(dengan suara pelan, berbicara kepada Dina)
Dina, kamu nggak paham soal ini ya?Dina:
(menggeleng, sedikit malu)
Iya, Riko. Aku nggak ngerti bagian ini. Semua rumusnya jadi campur aduk di otakku.
Adegan 2: “Tawaran Membantu”
(Setelah pelajaran selesai, Riko menghampiri Dina yang masih duduk di bangkunya, mencoba memahami catatan yang diberikan oleh Pak Agus.)
Riko:
(dengan suara ramah, tersenyum)
Dina, kamu kelihatan kesulitan tadi. Kalau kamu mau, aku bisa bantu jelaskan. Mungkin bisa lebih mudah kalau belajar bareng.Dina:
(dengan wajah ragu, tapi merasa cemas)
Makasih, Riko, tapi aku nggak mau ganggu kamu. Kamu pasti sibuk. Aku takut malah jadi ngerepotin.Riko:
(menggelengkan kepala, sambil duduk di sebelah Dina)
Nggak apa-apa, kok. Justru aku senang bisa bantu. Kita semua kan teman. Kalau ada yang nggak ngerti, harus saling bantu, kan?Dina:
(tersenyum lega, merasa dihargai)
Terima kasih banyak, Riko. Aku senang kamu mau bantu. Aku bakal coba dengerin baik-baik.
Adegan 3: “Proses Belajar Bersama”
(Riko mulai menjelaskan soal-soal yang belum dipahami Dina. Mereka bekerja bersama-sama di ruang kelas yang sepi setelah pelajaran selesai.)
Riko:
(menunjuk soal di buku Dina)
Oke, pertama kita cari tahu dulu variabel-variabel yang ada di soal ini. Lihat, ini ada x dan y. Kita akan isolasi satu persamaan dulu. Misalnya, kita selesaikan yang ini dulu, ya?Dina:
(mengangguk, mulai paham sedikit demi sedikit)
Oh, jadi kita harus pisahkan satu sisi dulu ya?Riko:
(tersenyum lebar)
Iya, tepat sekali. Setelah itu, tinggal kita substitusi ke persamaan kedua. Kalau kamu ngerti langkah-langkah ini, pasti soal lainnya juga lebih gampang.Dina:
(senang dan mulai percaya diri)
Wah, ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan. Terima kasih banget, Riko!
Tamat
Latar suasana dalam drama ini lebih sering menggambarkan suasana…
CorrectIncorrect -
Question 11 of 30
11. Question
Kue Buruk Rupa
Adegan 1: “Rencana Kue”
(Di dapur, Budi sedang mencoba membuat kue untuk acara keluarga. Siti datang mengunjungi Budi, yang terlihat kesulitan.)
Budi:
(mencampur bahan-bahan dengan gelisah, berbicara sendiri)
Oke, Budi. Kamu pasti bisa. Cuma adonan kue ini, jangan sampai gagal. Harus sempurna, kan?Siti:
(dengan senyum geli, melihat Budi yang tampak kacau)
Budi, kamu yakin itu cara yang benar? Itu kan bukan cara membuat kue yang biasa.Budi:
(berhenti sejenak, dengan ekspresi bingung)
Ah, pasti bisa! Kan sudah ada resepnya. Bukan masalah, kok. Siti, kamu tinggal tunggu hasilnya aja.Siti:
(dengan tertawa kecil, mencubit pipi Budi)
Iya, kalau kamu nggak lupa bahan-bahan lain. Itu bukan adonan, itu lebih mirip lumpur, Budi.
Adegan 2: “Kekacauan Kue”
(Beberapa saat kemudian, Pak Dedi datang untuk melihat hasil kue yang Budi buat.)
Pak Dedi:
(masuk ke dapur dengan ekspresi semangat)
Budi! Wah, kamu membuat kue? Saya mau lihat! Tunjukkan, dong!Budi:
(dengan rasa bangga, membuka oven dan menunjukkan kue yang tampak sangat berantakan)
Tadaa! Kue siap! Bagaimana, Pak Dedi? Meskipun agak sedikit… nggak beraturan, tapi rasanya pasti enak.Pak Dedi:
(terkejut melihat kue yang rusak, mencoba menahan tawa)
Wah, Budi, itu… itu lebih mirip… roti bakar yang jatuh ke tanah. Tapi kamu serius ingin sajikan ini?Siti:
(tertawa terbahak-bahak, menunjuk kue yang aneh bentuknya)
Budi, ini bukan kue, ini karya seni! Tapi aku nggak yakin bisa dimakan tanpa keajaiban.Budi:
(melihat kue itu dengan sedih, tapi tetap tersenyum kaku)
Ah, mungkin nanti kita hias dengan gula-gula. Bisa, kan?
Adegan 3: “Penyelesaian Kekacauan”
(Mereka semua tertawa, dan Budi akhirnya memutuskan untuk memesan kue dari toko.)
Budi:
(dengan tangan di pinggul, mengalah)
Oke, oke, aku akui. Aku nggak bisa bikin kue! Tapi… aku sudah pesan kue dari toko, kita tetap bisa punya acara yang sukses.Siti:
(tertawa, sambil duduk di meja makan)
Itu baru Budi! Jangan berlebihan, kamu sudah buat kami tertawa. Kue ini memang kue sialan, tapi hari ini penuh tawa!Pak Dedi:
(mengangkat gelas, mengangguk sambil tertawa)
Ini baru yang namanya acara keluarga! Terima kasih, Budi, sudah memberikan kami hiburan yang nggak pernah kami duga!
Tamat
Unsur drama yang tidak tampak dalam teks ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 12 of 30
12. Question
Kue Buruk Rupa
Adegan 1: “Rencana Kue”
(Di dapur, Budi sedang mencoba membuat kue untuk acara keluarga. Siti datang mengunjungi Budi, yang terlihat kesulitan.)
Budi:
(mencampur bahan-bahan dengan gelisah, berbicara sendiri)
Oke, Budi. Kamu pasti bisa. Cuma adonan kue ini, jangan sampai gagal. Harus sempurna, kan?Siti:
(dengan senyum geli, melihat Budi yang tampak kacau)
Budi, kamu yakin itu cara yang benar? Itu kan bukan cara membuat kue yang biasa.Budi:
(berhenti sejenak, dengan ekspresi bingung)
Ah, pasti bisa! Kan sudah ada resepnya. Bukan masalah, kok. Siti, kamu tinggal tunggu hasilnya aja.Siti:
(dengan tertawa kecil, mencubit pipi Budi)
Iya, kalau kamu nggak lupa bahan-bahan lain. Itu bukan adonan, itu lebih mirip lumpur, Budi.
Adegan 2: “Kekacauan Kue”
(Beberapa saat kemudian, Pak Dedi datang untuk melihat hasil kue yang Budi buat.)
Pak Dedi:
(masuk ke dapur dengan ekspresi semangat)
Budi! Wah, kamu membuat kue? Saya mau lihat! Tunjukkan, dong!Budi:
(dengan rasa bangga, membuka oven dan menunjukkan kue yang tampak sangat berantakan)
Tadaa! Kue siap! Bagaimana, Pak Dedi? Meskipun agak sedikit… nggak beraturan, tapi rasanya pasti enak.Pak Dedi:
(terkejut melihat kue yang rusak, mencoba menahan tawa)
Wah, Budi, itu… itu lebih mirip… roti bakar yang jatuh ke tanah. Tapi kamu serius ingin sajikan ini?Siti:
(tertawa terbahak-bahak, menunjuk kue yang aneh bentuknya)
Budi, ini bukan kue, ini karya seni! Tapi aku nggak yakin bisa dimakan tanpa keajaiban.Budi:
(melihat kue itu dengan sedih, tapi tetap tersenyum kaku)
Ah, mungkin nanti kita hias dengan gula-gula. Bisa, kan?
Adegan 3: “Penyelesaian Kekacauan”
(Mereka semua tertawa, dan Budi akhirnya memutuskan untuk memesan kue dari toko.)
Budi:
(dengan tangan di pinggul, mengalah)
Oke, oke, aku akui. Aku nggak bisa bikin kue! Tapi… aku sudah pesan kue dari toko, kita tetap bisa punya acara yang sukses.Siti:
(tertawa, sambil duduk di meja makan)
Itu baru Budi! Jangan berlebihan, kamu sudah buat kami tertawa. Kue ini memang kue sialan, tapi hari ini penuh tawa!Pak Dedi:
(mengangkat gelas, mengangguk sambil tertawa)
Ini baru yang namanya acara keluarga! Terima kasih, Budi, sudah memberikan kami hiburan yang nggak pernah kami duga!
Tamat
Pernyataan manakah yang tepat untuk menafsirkan isi drama ini?
CorrectIncorrect -
Question 13 of 30
13. Question
Kue Buruk Rupa
Adegan 1: “Rencana Kue”
(Di dapur, Budi sedang mencoba membuat kue untuk acara keluarga. Siti datang mengunjungi Budi, yang terlihat kesulitan.)
Budi:
(mencampur bahan-bahan dengan gelisah, berbicara sendiri)
Oke, Budi. Kamu pasti bisa. Cuma adonan kue ini, jangan sampai gagal. Harus sempurna, kan?Siti:
(dengan senyum geli, melihat Budi yang tampak kacau)
Budi, kamu yakin itu cara yang benar? Itu kan bukan cara membuat kue yang biasa.Budi:
(berhenti sejenak, dengan ekspresi bingung)
Ah, pasti bisa! Kan sudah ada resepnya. Bukan masalah, kok. Siti, kamu tinggal tunggu hasilnya aja.Siti:
(dengan tertawa kecil, mencubit pipi Budi)
Iya, kalau kamu nggak lupa bahan-bahan lain. Itu bukan adonan, itu lebih mirip lumpur, Budi.
Adegan 2: “Kekacauan Kue”
(Beberapa saat kemudian, Pak Dedi datang untuk melihat hasil kue yang Budi buat.)
Pak Dedi:
(masuk ke dapur dengan ekspresi semangat)
Budi! Wah, kamu membuat kue? Saya mau lihat! Tunjukkan, dong!Budi:
(dengan rasa bangga, membuka oven dan menunjukkan kue yang tampak sangat berantakan)
Tadaa! Kue siap! Bagaimana, Pak Dedi? Meskipun agak sedikit… nggak beraturan, tapi rasanya pasti enak.Pak Dedi:
(terkejut melihat kue yang rusak, mencoba menahan tawa)
Wah, Budi, itu… itu lebih mirip… roti bakar yang jatuh ke tanah. Tapi kamu serius ingin sajikan ini?Siti:
(tertawa terbahak-bahak, menunjuk kue yang aneh bentuknya)
Budi, ini bukan kue, ini karya seni! Tapi aku nggak yakin bisa dimakan tanpa keajaiban.Budi:
(melihat kue itu dengan sedih, tapi tetap tersenyum kaku)
Ah, mungkin nanti kita hias dengan gula-gula. Bisa, kan?
Adegan 3: “Penyelesaian Kekacauan”
(Mereka semua tertawa, dan Budi akhirnya memutuskan untuk memesan kue dari toko.)
Budi:
(dengan tangan di pinggul, mengalah)
Oke, oke, aku akui. Aku nggak bisa bikin kue! Tapi… aku sudah pesan kue dari toko, kita tetap bisa punya acara yang sukses.Siti:
(tertawa, sambil duduk di meja makan)
Itu baru Budi! Jangan berlebihan, kamu sudah buat kami tertawa. Kue ini memang kue sialan, tapi hari ini penuh tawa!Pak Dedi:
(mengangkat gelas, mengangguk sambil tertawa)
Ini baru yang namanya acara keluarga! Terima kasih, Budi, sudah memberikan kami hiburan yang nggak pernah kami duga!
Tamat
Bukti tekstual tentang emosi dalam drama ini terlihat pada…
CorrectIncorrect -
Question 14 of 30
14. Question
Kue Buruk Rupa
Adegan 1: “Rencana Kue”
(Di dapur, Budi sedang mencoba membuat kue untuk acara keluarga. Siti datang mengunjungi Budi, yang terlihat kesulitan.)
Budi:
(mencampur bahan-bahan dengan gelisah, berbicara sendiri)
Oke, Budi. Kamu pasti bisa. Cuma adonan kue ini, jangan sampai gagal. Harus sempurna, kan?Siti:
(dengan senyum geli, melihat Budi yang tampak kacau)
Budi, kamu yakin itu cara yang benar? Itu kan bukan cara membuat kue yang biasa.Budi:
(berhenti sejenak, dengan ekspresi bingung)
Ah, pasti bisa! Kan sudah ada resepnya. Bukan masalah, kok. Siti, kamu tinggal tunggu hasilnya aja.Siti:
(dengan tertawa kecil, mencubit pipi Budi)
Iya, kalau kamu nggak lupa bahan-bahan lain. Itu bukan adonan, itu lebih mirip lumpur, Budi.
Adegan 2: “Kekacauan Kue”
(Beberapa saat kemudian, Pak Dedi datang untuk melihat hasil kue yang Budi buat.)
Pak Dedi:
(masuk ke dapur dengan ekspresi semangat)
Budi! Wah, kamu membuat kue? Saya mau lihat! Tunjukkan, dong!Budi:
(dengan rasa bangga, membuka oven dan menunjukkan kue yang tampak sangat berantakan)
Tadaa! Kue siap! Bagaimana, Pak Dedi? Meskipun agak sedikit… nggak beraturan, tapi rasanya pasti enak.Pak Dedi:
(terkejut melihat kue yang rusak, mencoba menahan tawa)
Wah, Budi, itu… itu lebih mirip… roti bakar yang jatuh ke tanah. Tapi kamu serius ingin sajikan ini?Siti:
(tertawa terbahak-bahak, menunjuk kue yang aneh bentuknya)
Budi, ini bukan kue, ini karya seni! Tapi aku nggak yakin bisa dimakan tanpa keajaiban.Budi:
(melihat kue itu dengan sedih, tapi tetap tersenyum kaku)
Ah, mungkin nanti kita hias dengan gula-gula. Bisa, kan?
Adegan 3: “Penyelesaian Kekacauan”
(Mereka semua tertawa, dan Budi akhirnya memutuskan untuk memesan kue dari toko.)
Budi:
(dengan tangan di pinggul, mengalah)
Oke, oke, aku akui. Aku nggak bisa bikin kue! Tapi… aku sudah pesan kue dari toko, kita tetap bisa punya acara yang sukses.Siti:
(tertawa, sambil duduk di meja makan)
Itu baru Budi! Jangan berlebihan, kamu sudah buat kami tertawa. Kue ini memang kue sialan, tapi hari ini penuh tawa!Pak Dedi:
(mengangkat gelas, mengangguk sambil tertawa)
Ini baru yang namanya acara keluarga! Terima kasih, Budi, sudah memberikan kami hiburan yang nggak pernah kami duga!
Tamat
Puncak atau klimaks dalam drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 15 of 30
15. Question
Kue Buruk Rupa
Adegan 1: “Rencana Kue”
(Di dapur, Budi sedang mencoba membuat kue untuk acara keluarga. Siti datang mengunjungi Budi, yang terlihat kesulitan.)
Budi:
(mencampur bahan-bahan dengan gelisah, berbicara sendiri)
Oke, Budi. Kamu pasti bisa. Cuma adonan kue ini, jangan sampai gagal. Harus sempurna, kan?Siti:
(dengan senyum geli, melihat Budi yang tampak kacau)
Budi, kamu yakin itu cara yang benar? Itu kan bukan cara membuat kue yang biasa.Budi:
(berhenti sejenak, dengan ekspresi bingung)
Ah, pasti bisa! Kan sudah ada resepnya. Bukan masalah, kok. Siti, kamu tinggal tunggu hasilnya aja.Siti:
(dengan tertawa kecil, mencubit pipi Budi)
Iya, kalau kamu nggak lupa bahan-bahan lain. Itu bukan adonan, itu lebih mirip lumpur, Budi.
Adegan 2: “Kekacauan Kue”
(Beberapa saat kemudian, Pak Dedi datang untuk melihat hasil kue yang Budi buat.)
Pak Dedi:
(masuk ke dapur dengan ekspresi semangat)
Budi! Wah, kamu membuat kue? Saya mau lihat! Tunjukkan, dong!Budi:
(dengan rasa bangga, membuka oven dan menunjukkan kue yang tampak sangat berantakan)
Tadaa! Kue siap! Bagaimana, Pak Dedi? Meskipun agak sedikit… nggak beraturan, tapi rasanya pasti enak.Pak Dedi:
(terkejut melihat kue yang rusak, mencoba menahan tawa)
Wah, Budi, itu… itu lebih mirip… roti bakar yang jatuh ke tanah. Tapi kamu serius ingin sajikan ini?Siti:
(tertawa terbahak-bahak, menunjuk kue yang aneh bentuknya)
Budi, ini bukan kue, ini karya seni! Tapi aku nggak yakin bisa dimakan tanpa keajaiban.Budi:
(melihat kue itu dengan sedih, tapi tetap tersenyum kaku)
Ah, mungkin nanti kita hias dengan gula-gula. Bisa, kan?
Adegan 3: “Penyelesaian Kekacauan”
(Mereka semua tertawa, dan Budi akhirnya memutuskan untuk memesan kue dari toko.)
Budi:
(dengan tangan di pinggul, mengalah)
Oke, oke, aku akui. Aku nggak bisa bikin kue! Tapi… aku sudah pesan kue dari toko, kita tetap bisa punya acara yang sukses.Siti:
(tertawa, sambil duduk di meja makan)
Itu baru Budi! Jangan berlebihan, kamu sudah buat kami tertawa. Kue ini memang kue sialan, tapi hari ini penuh tawa!Pak Dedi:
(mengangkat gelas, mengangguk sambil tertawa)
Ini baru yang namanya acara keluarga! Terima kasih, Budi, sudah memberikan kami hiburan yang nggak pernah kami duga!
Tamat
Pesan moral yang bisa diambil dari drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 16 of 30
16. Question
Sahabat Sejati
Adegan 1: “Masalah di Sekolah”
(Di ruang kelas, Lina duduk sendirian dengan wajah murung. Rina yang melihatnya dari jauh, segera menghampiri.)
Rina:
(dengan senyuman ramah, duduk di samping Lina)
Lina, kenapa kamu kelihatan murung banget? Ada yang nggak beres, ya?Lina:
(dengan suara pelan, menunduk)
Aku nggak tahu, Rina. Semua terasa nggak berjalan seperti yang aku harapkan. Aku merasa kesulitan dengan ujian, dan hubungan dengan teman-teman juga nggak enak. Aku nggak tahu harus bagaimana.Rina:
(dengan penuh perhatian, memegang tangan Lina)
Aku tahu kamu lagi susah, Lina. Tapi jangan khawatir, aku selalu ada untukmu. Kita bisa lewati ini bersama. Apa yang bisa aku bantu?
Adegan 2: “Percakapan Tentang Masalah”
(Setelah sekolah, Rina mengajak Lina untuk berjalan-jalan di taman dekat sekolah, berharap bisa menghibur Lina.)
Lina:
(masih cemas, berbicara dengan nada rendah)
Aku nggak bisa terus seperti ini, Rina. Semua masalah datang bersamaan, dan aku merasa nggak punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Aku merasa sendiri.Rina:
(menyemangati dengan senyuman, berbicara dengan percaya diri)
Lina, kamu nggak sendirian. Kamu punya aku, dan kita bisa hadapi apa pun bersama. Aku tahu kamu kuat, dan kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman atau guru jika kamu merasa kesulitan.Lina:
(terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Rina. Aku sering lupa kalau aku punya teman yang selalu ada. Kamu benar, aku nggak boleh menyerah begitu saja.
Adegan 3: “Pelajaran dari Sahabat”
(Beberapa hari setelah percakapan mereka di taman, Lina datang ke sekolah dengan senyum lebar. Dia menghampiri Rina.)
Lina:
(dengan semangat, berbicara kepada Rina)
Rina, kamu nggak tahu betapa banyak yang aku pelajari setelah kita bicara kemarin. Aku merasa lebih kuat, dan aku mulai mengatasi masalahku satu per satu. Aku nggak bisa terus hidup dalam ketakutan.Rina:
(tersenyum bangga, memeluk Lina)
Aku senang mendengarnya, Lina! Kamu memang kuat, dan aku selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi, kita bisa atasi bersama.
Tamat
Unsur drama yang tidak tampak dalam teks ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 17 of 30
17. Question
Sahabat Sejati
Adegan 1: “Masalah di Sekolah”
(Di ruang kelas, Lina duduk sendirian dengan wajah murung. Rina yang melihatnya dari jauh, segera menghampiri.)
Rina:
(dengan senyuman ramah, duduk di samping Lina)
Lina, kenapa kamu kelihatan murung banget? Ada yang nggak beres, ya?Lina:
(dengan suara pelan, menunduk)
Aku nggak tahu, Rina. Semua terasa nggak berjalan seperti yang aku harapkan. Aku merasa kesulitan dengan ujian, dan hubungan dengan teman-teman juga nggak enak. Aku nggak tahu harus bagaimana.Rina:
(dengan penuh perhatian, memegang tangan Lina)
Aku tahu kamu lagi susah, Lina. Tapi jangan khawatir, aku selalu ada untukmu. Kita bisa lewati ini bersama. Apa yang bisa aku bantu?
Adegan 2: “Percakapan Tentang Masalah”
(Setelah sekolah, Rina mengajak Lina untuk berjalan-jalan di taman dekat sekolah, berharap bisa menghibur Lina.)
Lina:
(masih cemas, berbicara dengan nada rendah)
Aku nggak bisa terus seperti ini, Rina. Semua masalah datang bersamaan, dan aku merasa nggak punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Aku merasa sendiri.Rina:
(menyemangati dengan senyuman, berbicara dengan percaya diri)
Lina, kamu nggak sendirian. Kamu punya aku, dan kita bisa hadapi apa pun bersama. Aku tahu kamu kuat, dan kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman atau guru jika kamu merasa kesulitan.Lina:
(terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Rina. Aku sering lupa kalau aku punya teman yang selalu ada. Kamu benar, aku nggak boleh menyerah begitu saja.
Adegan 3: “Pelajaran dari Sahabat”
(Beberapa hari setelah percakapan mereka di taman, Lina datang ke sekolah dengan senyum lebar. Dia menghampiri Rina.)
Lina:
(dengan semangat, berbicara kepada Rina)
Rina, kamu nggak tahu betapa banyak yang aku pelajari setelah kita bicara kemarin. Aku merasa lebih kuat, dan aku mulai mengatasi masalahku satu per satu. Aku nggak bisa terus hidup dalam ketakutan.Rina:
(tersenyum bangga, memeluk Lina)
Aku senang mendengarnya, Lina! Kamu memang kuat, dan aku selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi, kita bisa atasi bersama.
Tamat
Pernyataan manakah yang tepat untuk menafsirkan isi drama ini?
CorrectIncorrect -
Question 18 of 30
18. Question
Sahabat Sejati
Adegan 1: “Masalah di Sekolah”
(Di ruang kelas, Lina duduk sendirian dengan wajah murung. Rina yang melihatnya dari jauh, segera menghampiri.)
Rina:
(dengan senyuman ramah, duduk di samping Lina)
Lina, kenapa kamu kelihatan murung banget? Ada yang nggak beres, ya?Lina:
(dengan suara pelan, menunduk)
Aku nggak tahu, Rina. Semua terasa nggak berjalan seperti yang aku harapkan. Aku merasa kesulitan dengan ujian, dan hubungan dengan teman-teman juga nggak enak. Aku nggak tahu harus bagaimana.Rina:
(dengan penuh perhatian, memegang tangan Lina)
Aku tahu kamu lagi susah, Lina. Tapi jangan khawatir, aku selalu ada untukmu. Kita bisa lewati ini bersama. Apa yang bisa aku bantu?
Adegan 2: “Percakapan Tentang Masalah”
(Setelah sekolah, Rina mengajak Lina untuk berjalan-jalan di taman dekat sekolah, berharap bisa menghibur Lina.)
Lina:
(masih cemas, berbicara dengan nada rendah)
Aku nggak bisa terus seperti ini, Rina. Semua masalah datang bersamaan, dan aku merasa nggak punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Aku merasa sendiri.Rina:
(menyemangati dengan senyuman, berbicara dengan percaya diri)
Lina, kamu nggak sendirian. Kamu punya aku, dan kita bisa hadapi apa pun bersama. Aku tahu kamu kuat, dan kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman atau guru jika kamu merasa kesulitan.Lina:
(terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Rina. Aku sering lupa kalau aku punya teman yang selalu ada. Kamu benar, aku nggak boleh menyerah begitu saja.
Adegan 3: “Pelajaran dari Sahabat”
(Beberapa hari setelah percakapan mereka di taman, Lina datang ke sekolah dengan senyum lebar. Dia menghampiri Rina.)
Lina:
(dengan semangat, berbicara kepada Rina)
Rina, kamu nggak tahu betapa banyak yang aku pelajari setelah kita bicara kemarin. Aku merasa lebih kuat, dan aku mulai mengatasi masalahku satu per satu. Aku nggak bisa terus hidup dalam ketakutan.Rina:
(tersenyum bangga, memeluk Lina)
Aku senang mendengarnya, Lina! Kamu memang kuat, dan aku selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi, kita bisa atasi bersama.
Tamat
Bukti tekstual tentang emosi dalam drama ini terlihat pada…
CorrectIncorrect -
Question 19 of 30
19. Question
Sahabat Sejati
Adegan 1: “Masalah di Sekolah”
(Di ruang kelas, Lina duduk sendirian dengan wajah murung. Rina yang melihatnya dari jauh, segera menghampiri.)
Rina:
(dengan senyuman ramah, duduk di samping Lina)
Lina, kenapa kamu kelihatan murung banget? Ada yang nggak beres, ya?Lina:
(dengan suara pelan, menunduk)
Aku nggak tahu, Rina. Semua terasa nggak berjalan seperti yang aku harapkan. Aku merasa kesulitan dengan ujian, dan hubungan dengan teman-teman juga nggak enak. Aku nggak tahu harus bagaimana.Rina:
(dengan penuh perhatian, memegang tangan Lina)
Aku tahu kamu lagi susah, Lina. Tapi jangan khawatir, aku selalu ada untukmu. Kita bisa lewati ini bersama. Apa yang bisa aku bantu?
Adegan 2: “Percakapan Tentang Masalah”
(Setelah sekolah, Rina mengajak Lina untuk berjalan-jalan di taman dekat sekolah, berharap bisa menghibur Lina.)
Lina:
(masih cemas, berbicara dengan nada rendah)
Aku nggak bisa terus seperti ini, Rina. Semua masalah datang bersamaan, dan aku merasa nggak punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Aku merasa sendiri.Rina:
(menyemangati dengan senyuman, berbicara dengan percaya diri)
Lina, kamu nggak sendirian. Kamu punya aku, dan kita bisa hadapi apa pun bersama. Aku tahu kamu kuat, dan kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman atau guru jika kamu merasa kesulitan.Lina:
(terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Rina. Aku sering lupa kalau aku punya teman yang selalu ada. Kamu benar, aku nggak boleh menyerah begitu saja.
Adegan 3: “Pelajaran dari Sahabat”
(Beberapa hari setelah percakapan mereka di taman, Lina datang ke sekolah dengan senyum lebar. Dia menghampiri Rina.)
Lina:
(dengan semangat, berbicara kepada Rina)
Rina, kamu nggak tahu betapa banyak yang aku pelajari setelah kita bicara kemarin. Aku merasa lebih kuat, dan aku mulai mengatasi masalahku satu per satu. Aku nggak bisa terus hidup dalam ketakutan.Rina:
(tersenyum bangga, memeluk Lina)
Aku senang mendengarnya, Lina! Kamu memang kuat, dan aku selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi, kita bisa atasi bersama.
Tamat
Puncak atau klimaks dalam drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 20 of 30
20. Question
Sahabat Sejati
Adegan 1: “Masalah di Sekolah”
(Di ruang kelas, Lina duduk sendirian dengan wajah murung. Rina yang melihatnya dari jauh, segera menghampiri.)
Rina:
(dengan senyuman ramah, duduk di samping Lina)
Lina, kenapa kamu kelihatan murung banget? Ada yang nggak beres, ya?Lina:
(dengan suara pelan, menunduk)
Aku nggak tahu, Rina. Semua terasa nggak berjalan seperti yang aku harapkan. Aku merasa kesulitan dengan ujian, dan hubungan dengan teman-teman juga nggak enak. Aku nggak tahu harus bagaimana.Rina:
(dengan penuh perhatian, memegang tangan Lina)
Aku tahu kamu lagi susah, Lina. Tapi jangan khawatir, aku selalu ada untukmu. Kita bisa lewati ini bersama. Apa yang bisa aku bantu?
Adegan 2: “Percakapan Tentang Masalah”
(Setelah sekolah, Rina mengajak Lina untuk berjalan-jalan di taman dekat sekolah, berharap bisa menghibur Lina.)
Lina:
(masih cemas, berbicara dengan nada rendah)
Aku nggak bisa terus seperti ini, Rina. Semua masalah datang bersamaan, dan aku merasa nggak punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Aku merasa sendiri.Rina:
(menyemangati dengan senyuman, berbicara dengan percaya diri)
Lina, kamu nggak sendirian. Kamu punya aku, dan kita bisa hadapi apa pun bersama. Aku tahu kamu kuat, dan kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman atau guru jika kamu merasa kesulitan.Lina:
(terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis)
Terima kasih, Rina. Aku sering lupa kalau aku punya teman yang selalu ada. Kamu benar, aku nggak boleh menyerah begitu saja.
Adegan 3: “Pelajaran dari Sahabat”
(Beberapa hari setelah percakapan mereka di taman, Lina datang ke sekolah dengan senyum lebar. Dia menghampiri Rina.)
Lina:
(dengan semangat, berbicara kepada Rina)
Rina, kamu nggak tahu betapa banyak yang aku pelajari setelah kita bicara kemarin. Aku merasa lebih kuat, dan aku mulai mengatasi masalahku satu per satu. Aku nggak bisa terus hidup dalam ketakutan.Rina:
(tersenyum bangga, memeluk Lina)
Aku senang mendengarnya, Lina! Kamu memang kuat, dan aku selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi, kita bisa atasi bersama.
Tamat
Pesan moral yang bisa diambil dari drama ini adalah…
CorrectIncorrect -
Question 21 of 30
21. Question
Bagaimana peran dialog dalam menyampaikan gagasan dan pesan moral dalam sebuah drama?
CorrectIncorrect -
Question 22 of 30
22. Question
Mengapa memahami latar (setting) dalam drama penting bagi penonton?
CorrectIncorrect -
Question 23 of 30
23. Question
Mengapa penting bagi penulis naskah drama untuk memperhatikan unsur simbolisme atau makna tersirat dalam cerita?
CorrectIncorrect -
Question 24 of 30
24. Question
Bagaimana aktor dapat membuat karakter dalam drama terasa hidup dan meyakinkan di mata penonton?
CorrectIncorrect -
Question 25 of 30
25. Question
Bagaimana peran properti dan tata panggung dalam memperkuat pesan yang ingin disampaikan drama?
CorrectIncorrect -
Question 26 of 30
26. Question
Bagaimana pentingnya alur (plot) dalam struktur drama?
CorrectIncorrect -
Question 27 of 30
27. Question
Bagaimana peran bagian resolusi dalam sebuah drama?
CorrectIncorrect -
Question 28 of 30
28. Question
Perhatikan kutipan di bawah ini!
Ibu: “Anakku, jangan menyerah. Kegagalan ini bukan akhir, tapi awal untukmu belajar menjadi lebih kuat.”
Dalam struktur drama, kutipan ini kemungkinan besar muncul pada bagian…
CorrectIncorrect -
Question 29 of 30
29. Question
Perhatikan kutipan di bawah ini!
Andi: “Kenapa kamu tega berbuat ini, Budi? Bukankah kita sudah berjanji tidak akan saling menyakiti?”
Budi: (terdiam, menunduk, mengepalkan tangan)Kutipan ini kemungkinan besar termasuk dalam bagian…
CorrectIncorrect -
Question 30 of 30
30. Question
Perhatikan kutipan di bawah ini!
Ani: “Kalau saja aku tidak egois waktu itu, mungkin semuanya akan berbeda…” (menangis, memeluk foto keluarga)
Bagian struktur drama yang paling sesuai untuk adegan ini adalah…
CorrectIncorrect